Di Bawah Naungan Klanggo Doropeti

2

Dari Pos Pemantau Gunung Api (PPGA) Tambora, Doropeti, kami beranjak ke Dusun Gunung Sari, menumpang truk yang kepayahan melaju di atas jalan tanah rusak dimakan erosi. Jalur Doropeti tidak sepopuler saudara tuanya, Jalur Pancasila. Adalah tim yang dipimpin Don Hasman, fotografer senior tanah air, yang disebut-sebut sebagai salah satu yang pertama menembus jalur ini, tahun 2009 silam. Lima tahun berselang Doropeti masih relatif tak tersentuh.

Padahal Doropeti sendiri tidaklah terlalu mblusuk. Jaraknya hanya dua jam dari Kota Dompu—dengan jalan beraspal hotmix—dan berada pada ketinggian 25 meter di atas permukaan laut (mdpl). Beberapa homestay yang diswakelola oleh masyarakat sudah berdiri. Jika memerlukan bantuan kesehatan, telah tersedia puskesmas yang dibangun persis di pinggir jalan. Kantor Perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan PPGA juga bisa diandalkan untuk menggali informasi yang berguna sebelum naik Tambora.

Doropeti hanya selemparan batu dari pantai. Menginap di pinggir laut sambil membakar ikan bisa menjadi alternatif selain menyewa kamar.

Saya merasa seperti terjebak dalam petualangan film God Must Be Crazy ketika truk itu meluncur membelah padang sabana. Sesekali kuda dan sapi berlari-lari di cakrawala—minus bushmen tentunya. Mentari bersinar terik, hanya sesekali cahayanya dibiaskan oleh debu yang mengepul dari roda belakang. Hanya truk, jeep, mobil bak terbuka, atau kendaraan roda dua yang berani menempuh jalur menuju Gunung Sari ini. Menjelang tiba di dusun itu, truk kami melewati ladang tebu dan pabrik gula yang beroperasi di sana sejak 2015. Setengah jam terguncang-guncang di atas truk akhirnya kami tiba di dusun terakhir di jalur pendakian Doropeti itu. Dibanding PPGA Doropeti tempat ini lebih sejuk sebab berada pada ketinggian sekitar 190 mdpl. Sumber air juga melimpah, cocok untuk dikembangkan sebagai basecamp pendakian.

Meninggalkan Gunung Sari, kami berjalan beriringan melewati jalan setapak yang diapit oleh hamparan kebun dan ladang jagung. Rombongan kami lumayan banyak, tim utama sejumlah 6 orang yang dibantu oleh 13 porter yang membawa logistik.

Trek masih relatif landai, saya dan kawan-kawan melangkah ringan di atas tanah subur yang disaput oleh pasir vulkanik halus. Tak terasa satu setengah jam berlalu. Setelah melewati batas hutan, kami tiba di Pos Air Terjun. Perhentian pertama ini cukup luas, mampu menampung sekitar 20 tenda dome kapasitas 2-4 orang. Tanaman pancang dan pohon-pohon berdiameter besar mendominasi pos ini. Di sela-sela kerimbunan, rotan menjulur-julur. Seratus meter dari sini, di lembahan sisi kanan jalur, sumber air muncul sebagai aliran sungai beserta air terjun yang tingginya mencapai 15-20 meter. Kami mesti hati-hati ketika turun sebab trek yang diapit oleh semak belukar itu masih teramat licin.

Di bawah naungan pepohonan raksasa

Ketika kami tiba di pos selanjutnya, Camp Sungai yang juga dikenal sebagai Pos Illegal Logging, Pak … tampak tertegun di hadapan balok-balok kayu yang ditumbangkan oleh penebangan ilegal. Beliau adalah pemandu tim kami, mantan perambah hutan yang sejak empat tahun lalu mengakhiri karirnya di dunia penebangan kayu. Ia teringat anaknya yang meninggal tertimpa pohon besar—alasan ia mengakhiri pekerjaan itu.

Dahulu kegiatan penebangan pohon memang marak di desa ini. Sebuah perusahaan penebangan bernama PT Veneer Product Indonesia sempat berjaya. Untuk memudahkan operasional, mereka bahkan pernah membuka jalan tanah yang bisa dilalui truk sampai ketinggian 1600 mdpl. Pos kedua ini adalah sebagian dari ruasnya. Selama bertahun-tahun truk-truk tersebut lalu-lalang membawa kayu sampai akhirnya perusahaan itu gulung tikar pada tahun 1997. Kini jejak-jejak perusahaan tersebut hanyalah beberapa ruas jalan tanah serta tanda (tag) pada pohon-pohon klanggo alias kilang go (Duabanga moluccana), tanaman khas Tambora, yang belum sempat ditebang.

Selepas era Veneer, hutan dirambah secara ilegal. Tumpukan balok kayu klanggo yang tersebar di sekitar pos adalah saksinya. Mereka tampak tabah menunggu nasib—apa gerangan yang mampu dilakukan sebatang kayu untuk memperjuangkan haknya?

“Agustus, pada musim kering, kayu-kayu tersebut diangkut turun menggunakan truk,” ujar seorang penebang yang saya ajak berbincang di kemudian hari.

Namun, meskipun sudah dijamah oleh penebang, kondisi hutan di daerah ini masih terbilang alami. Pepohonan masih tinggi dan rimbun. Dalam perjalanan menuju pos ini tadi saya menemukan jejak kaki binatang yang entah rusa atau menjangan.

Kami menghabiskan malam di pos ini; masak, mengobrol, sekaligus membahas rencana perjalanan untuk esok hari.

Keesokan harinya perjalanan kami disambut tanjakan yang lebih terjal. Tim tampak mulai terbebani oleh kemiringan jalur, porter berkali-kali membenarkan posisi beban di punggung masing-masing. Hutan semakin rapat, pohon semakin tinggi dan lebat. Namun masih saja, sampai ketinggian 1700 mdpl, mata saya menangkap tag-tag peninggalan Veneer di pohon-pohon klanggo raksasa.

Sekira satu jam lepas Camp Sungai kami menerobos di antara dua pohon klanggo berdiameter dua setengah meter yang tampak seperti gerbang masuk yang mengantarkan kami ke dunia lain.

Namun kami memang masuk ke dunia lain, dunia yang tingkat kelembabannya lebih tinggi sehingga menjadikannya habitat yang sesuai bagi pacet penghisap darah.

Sepuluh menit dari ‘gerbang’ kami tiba di pos selanjutnya, Camp Sungai Pemburu. Di sini kami hanya beristirahat sebentar—sambil melepaskan pacet-pacet yang menempel tentunya—dan mengambil air untuk bekal etape selanjutnya.

Hotel bintang seribu di Santigi

Lima ratus meter setelah Sungai Pemburu saya mengeluarkan golok untuk merapikan jalur yang sudah mulai ditutupi oleh semak belukar. Perjalanan melambat, meleset berjam-jam, memberi waktu pada tangan saya untuk mengayun-ayunkan golok itu ke kanan-kiri.

Ketika matahari sudah beradu dengan cakrawala, saya sampai di sebuah tempat yang terbuka. Kelelahan. Saya mendongak untuk mendapati bahwa saya diamati oleh jejeran pohon cemara raksasa; diameter 1,5 meter, tinggi mencapai 50 meter, minus daun.

Waktu terus berjalan, kami sudah melewati Camp Air Rusa yang jalur menuju ke sana dipenuhi buah berry hutan, juga lembahan yang dijadikan sumber air oleh rusa. Duabanga moluccana masih menaungi perjalanan kami. Tirai kelam akhirnya turun, hitam yang ditembus oleh titik-titik gemerlapan yang disebut orang sebagai bintang.

Pohon pinus dan cemara mulai bersaing jumlahnya dengan klanggo—kami sudah hampir tiba di batas hutan. Empat jam sudah saya menerabas semak, tangan sudah begitu letih. Sekujur tubuh ini bersukacita ketika tak ada lagi yang perlu diterabas selewat Cemara Terbakar.

Ini bukan deja vu. Ketika melihat pada pohon cemara itu, kenangan beberapa tahun silam muncul, ketika saya terjebak badai dan mesti berlindung di sebuah “beranda kecil” lima belas meter di bawah pohon itu. Waktu itu saya diajak tim Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Konservasi dan Hutan Lindung untuk melakukan survey kajian kelayakan Tambora sebagai taman nasional. Entah saran dari siapa, tim itu memilih Jalur Doropeti, dipandu oleh empat orang porter yang direkomendasikan oleh pegawai kantor pemantau gunung api. Saya kaget ketika menemukan bekas-bekas tebangan pohon yang terdapat sepanjang jalur, berupa balok-balok yang siap untuk dikirim turun. Semula saya pikir itu legal, ternyata tidak. Polisi Hutan (polhut) yang ikut naik mendampingi tim pun tidak dapat berbuat banyak ketika menemukan sisa tebangan “segar”. Memang, beberapa hari sebelum naik saya memperoleh informasi bahwa ada seorang polhut yang baru saja dihajar oknum penebang. Selepas gerbang cemara, angin mulai menampar-nampar. Tak mau kalah, butiran hujan juga ikut menusuk-nusuk. Kulit saya mulai terasa perih menghadapi serangan itu, apalagi bagian yang sebelumnya sudah lebih dulu dijamah jelatang. Tirai kabut pun datang sampai-sampai jarak pandang berkurang menjadi hanya sekitar satu meter. Akhirnya kami mencari tanah datar untuk membangun camp sebab tidak mungkin lagi untuk melanjutkan pendakian untuk hari itu. Kami menemukan sebuah area datar, ukuran 2×3 di pinggir tebing, sekitar lima belas meter di bawah pohon cemara besar. Bergegas kami mendirikan tenda untuk bermalam di sana, menunggu badai reda.

Kemudian di dalam tenda kami berdiskusi soal rencana keesokan harinya. Ketika dalam keadaan terjepit seperti itulah tim mesti bersatu untuk menyatukan pendapat. Dalam sebuah tim, kesamaan visi mutlak diperlukan. Sudah banyak contoh kejadian buruk yang terjadi ketika suara tim pecah menjadi beberapa kelompok, yang berujung pada—tak lain dan tak bukan—tragedi.

Keputusannya adalah tim akan melanjutkan perjalanan ketika cuaca sudah membaik dan matahari sudah mampu mengangkat kabut yang menghalangi jarak pandang. Jika dua kondisi itu tidak kunjung terpenuhi, sementara kami sudah terjebak sangat lama di tebing itu, kami semua akan legowo untuk turun.

Hujan baru berhenti pukul sebelas siang keesokan harinya, disusul dengan munculnya matahari. Terkadang sebuah pendakian memang menuntut kesabaran. Toh apa yang mau dikejar?

Tapi, tidak seperti beberapa tahun lalu, malam ini berbeda. Cerah ceria, lengkap dengan gemintang yang berkedip manja. Dengan langkah yang dimantap-mantapkan saya bergerak menunju Camp Santigi. Di pos yang diwarnai oleh semak cantigi itu, Pak … dan saya membuat api unggun untuk menyambut kawan-kawan yang akan datang menyusul sebentar lagi. Di atas, bulan menggantung bak lampu taman.

Tanpa Selebrasi

Kesalahpahaman soal air membuat kami terlalu lelah untuk sekadar mengepalkan tangan ke atas ketika tiba di puncak pukul dua siang keesokan harinya. Lagian, atraksi utama dari Tambora adalah kaldera raksasanya—lokasi yang akan kami tuju selanjutnya.

Di bawah, Teluk Saleh, Pulau Satonda, dan Pulau Moyo yang menyembul dari lautan menyapa. Sementara itu tepat di depan mata Kaldera Tambora tampak begitu kolosal. Lubang menganga itu adalah saksi dari letusan dahsyat dua abad silam, pangkal bala dari kekalahan besar pasukan Napoleon di Waterloo.

Seolah tak ambil pusing pada paradoks keindahan yang disuguhkan Tambora, rumpun-rumpun edelweiss muncul di beberapa tempat. Siapapun yang pernah singgah dan berdiri di puncak maupun kaldera gunung ini niscaya akan campur aduk perasaannya—syukur, takjub, kagum, sekaligus bangga dan bahagia.

 

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco