Bertandang ke Desa Wae Rebo

6

Perjalanan Ke Desa Wae Rebo — jelajah hutan, keramahan penduduk, kopi Flores, legenda tarian caci dan mbata — dikisahkan dengan apik oleh Ika Soewadji.

Buatku, perjalanan menuju Wae Rebo sangatlah panjang, setelah menempuh perjalanan selama enam jam menggunakan mobil travel dari Labuan Bajo, akhirnya aku tiba di Ruteng. Hari sudah gelap saat itu, untungnya pak sopir mengantarku langsung ke Penginapan yang dituju, Susteran Maria Berduka Cita. Berada di bawah kaki gunung Ranaka membuat udara di penginapan ini sangat dingin, untung saja suster-susternya hangat menyambut. Setelah mendapat kamar dan membersihkan diri, aku langsung beristirahat karena besok harus mencari kendaraan menuju Dintor. Menurut suster tidak ada kendaraan ke sana mengingat kendaraan umum tidak beroperasi menjelang paskah, pilihan terakhir adalah ojek bila perkataannya benar.

Alhamdulilah, suster ingat pesan semalam untuk membangunkanku saat subuh. Setuntas mandi dan sarapan nasi goreng, aku langsung berkemas lalu menuju terminal. Ternyata pesan suster di penginapan benar, sesampainya di terminal tidak ada kendaraan sampai tiga hari ke depan, lemas mendengarnya.

Kutaruh ransel dan duduk bersandar. “Kemana dong sampai tiga hari ke depan?” pikirku. Tiba-tiba seorang menyapa, “Nona mau ke mana?” Beruntungnya, setelah ia yang ternyata adalah supir oto (angkot) tahu niatku untuk menuju Wae Rebo, ia mau mengajakku dalam mobilnya yang mengangkut pedagang-pedagang yang baru saja membeli barang dari kota ini. Tak masalah apa saja kondisinya, yang terpenting aku bisa berangkat hari ini.

Dari Ruteng menuju Dintor kami harus melintasi jalanan yang panjang, rusak dan berkelok-kelok. Di dalam mobil yang penuh sesak, penumpang bergoyang dan terguncang tak tentu arah namun canda tawa dengan mama – mama yang akan berjualan ke pasar membuat perjalanan ini terasa menyenangkan. Lima jam dibutuhkan untuk sampai di Desa Dintor. Pak Supir tidak mau dibayar ketika menurunkanku di pertigaan menuju Wae Rebo. Ia bilang ikhlas membantuku. Di sana Pak Martin sudah menunggu karena sejak dari Ruteng aku telah mengabarinya jadwal keberangkatanku via sms.

Kediaman Pak Martin adalah perhentianku malam ini, berada agak di ketinggian, rumah berarsitektur panggung ini menghadap ke pematang sawah, barisan pegunungan di sebelah kanan dan hamparan laut biru di sebelah kiri. Setelah menyimpan ransel di kamar yang berada di paling pojok rumah, aku berjalan melintasi persawahan dan sungai kecil. Subhanallah berulang kali aku daraskan dalam hati.

Pulang dari telusur sawah aku langsung disambut kopi Flores bersanding singkong rebus, beririing makan malam spesial nasi merah dikawani ikan tongkol, tumis bayam kembang pepaya, kerupuk. Tidak ketinggalan lombok dengan garam, konon kenapa ada dua item ini karena orang Manggarai tidak suka makan pedas.

Desa Dintor belum terjangkau pasokan listrik dari pemerintah sehingga dari jam enam sore sampai empat pagi genset yang menghasilkan daya. Malam yang damai jauh dari kebisingan membuatku cepat tertidur. Selain esok harinya aku harus bangun pagi untuk trekking menuju Wae Rebo.

——

Langit mulai meninggalkan gelap ketika lima ojek beriringan menuju Desa Denge, yang duduk di belakang adalah Amri, Anna, Reza, Pak Marsel dan saya. Ojek berhenti di depan SD, dari sana kami mulai berjalan kaki melintasi hutan kecil dan sebuah sungai. Selepas menyebrangi sungai kami bertemu dengan Ame Alex dan Ine Veronica, penduduk Wae Rebo yang kebetulan pulang dari desa Denge untuk membeli kebutuhan pokok. Bersama mereka kami berbagi cerita sambil menikmati alam yang indah dan udara sejuk. Berkali-kali kami istirahat untuk membahasi tenggorokan atau sekedar meregangkan otot. Berungkali kami dihinggapi pacet, jadi jika kawan-kawan pejalan ingin ke Wae Rebo harap bawa persiapan yang lebih matang dan menggunakan sepatu. Lewat tiga jam dari waktu keberangkatan akhirnya kami tiba di Ponto Nao. Di desa ini terdapat jembatan yang terjangkau sinyal provider telepon sehingga biasa digunakan warga Wae Rebo jika ingin berkomunikasi menggunakan handphone. Menurut Ame Alex masih satu jam perjalanan lagi menuju Wae Rebo dari jembatan tersebut.

Dari atas jembatan tersebut terpampang Desa Wae Rebo, dusun yang mengepulkan asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebidang tanah lapang nan luas dan hijau diapit bukit-bukit. Inilah sisa desa purbakala Mbaru Niang yang legendaris namun hampir punah.

Setelah melewati jalan yang menurun terjal, aku tiba di Desa Wae Rebo dan langsung lari menyapa anak-anak yang membalas dengan lambaian tangan dan serentak memelukku. Akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di sisa-sisa terakhir peninggalan arsitektur budaya Manggarai yang terancam ditinggalkan.

IMG_0261edit

Pak Rafael sang tetua suku, Pak Yos dan beberapa bapak yang saya lupa namanya segera menyambut kami. Sajian khas beriring datang, mulai dari kopi, teh sumang, ubi dan talas. Tak berapa lama sajian ayam dengan bumbu khas datang menyusul. Rasanya seperti mimpi bisa datang ke sini.

Pak Yos merupakan generasi ke-18 suku Wae Rebo, ketika di awal pertemuan aku tanta mengapa berbentuk kerucut dan dari mana asal muasalnya, ia sendiri tidak bisa memberi jawaban pasti. Namun, ia bercerita tentang kegiatan utama warga desa seperti bertani kopi dan menenun kain tradisional.

Berada di Kabupaten Manggarai, Kecamatan Satarmese Barat, Desa Satar Lenda Nusa Tenggara Timur, Wae Rebo yang terlalu jauh terpisah oleh lembah dan bukit-bukit yang berkerudung kabut di ujung pohonnya membuat banyak pejalan dan orang Flores yang tak mengenal desa ini. Kisah tentang Desa Wae Rebo mungkin bisu di negeri sendiri tapi bergema panjang di negeri orang. Pejalan dari Jerman, Belanda, Brazilia, Perancis, Amerika dan negara Asia lainnya sudah sekian lama berdatangan terkesan sekali dengan perkampung yang rumah-rumahnya laksana payung berbahan daun lontar yang disebut sebagai Mbaru Niang.

Leluhur Wae rebo termasuk “Empo Maro” mewariskan tujuh buah rumah kerucut yang sangat menawan meskipun saat ini sudah lelah dimakan usia. Untung saja ada yayasan dari Jakarta memberikan bantuan dengan merenovasi dan mendirikan rumah yang sama untuk menggantikan satu rumah yang sudah hancur. Rumah kerucut ini terdiri dari lima tingkat: pertama lutur atau tenda untuk tempat tinggal penghuni, kedua lobo atau loteng tempat menyimpan bahan makanan dan barang, ketiga lentar untuk menyimpan benih, keempat lempa rae untuk menyimpan cadangan makanan jika suatu saat mengalami gagal panen, kelima hekang kode untuk menyimpan sajian leluhur. Masyarakat Wae Rebo tidak mengenal klan, berbeda dengan masyarakat tradisional lain di Indonesia.

Terdapat satu pantangan di desa ini yaitu tidak boleh membunuh apalagi memakan musang. Konon, di masa lalu musang adalah hewan yang berjasa menyelamatkan desa Wae Rebo dari serangan musuh sehingga musang dianggap sebagai bagian dari leluhur mereka.

Mayoritas masyarakat Wae Rebo memeluk agama Katolik walaupun budaya animisme hidup berdampingan sebagai bentuk kearifan lokal. Mereka percaya tanah, air dan hutan mempunyai perasaan oleh sebab itu tidak boleh disakiti, layaknya manusia.

Sambil minum kopi, saya dikisahkan legenda tentang penunggu hutan yang membuat panggung batu. Sosok misterius itu yang lelaki memiliki perawakan nan gagah menawan namun kuat tak terperi hingga mampu mengangkat batu besar dengan satu tangan. Sedangkan yang perempuan memiliki rambut panjang dan berparas cantik. Dulu kala, setelah panggung batu tersebut selesai, nenek moyang Wae Rebo mengadakan tarian caci dan mbata (tabuhan gendang) dilakukan sepanjang malam.

IMG_0232edit

Banyak cara untuk menikmati perjalanan, salah satunya adalah melakukan apa yang penduduk asli lakukan. Saya memohon pada Ame Vero untuk diizinkan membantunya mengambil air di pancuran tempat mandi perempuan. Tersedia penampungan air sejauh lima belas menit berjalan kaki dari rumah, tapi warga lebih senang mengambil di pancuran. Namun, pejalan tidak perlu khawatir masalah kamar mandi karena sudah tersedia dua unit untuk tamu. Keberadaannya berkat program tanggung jawab sosial perusahaan produk air mineral.

Sepulang dari mengambil air dan mandi di pancuran perempuan, aku mengikuti Ame Vero untuk menjemur kopi hasil panen kemarin. Harum wangi kopi semerbak saat perempuan baik hati tersebut mengaduk-aduk biji kopi. Wajar jika salah satu
jenis kopi terenak di Indonesia berasal dari Flores.

Kebanyakan anak-anak keluar desa saat memasuki usia sekolah karena fasilitas pendidikan yang sangat minim di Wae Rebo. Desa Kombo menjadi pilihan utama karena dekat dan banyak warga Wae Rebo memiliki sanak saudara di sana.

Banyak pengalaman yang aku petik dari perjalanan kali ini , terutama tentang arti sebuah kebersamaan, kekeluargaan, memelihara adat budaya leluhur. Hal yang banyak terlupa karena kemajuan teknologi namun masih kuat bertahan di sini.

 

6 COMMENTS

  1. Salam mba ika. Maaf sy mau tanya, apakah di ruteng itu kita jrs menginap dulu? Mosalkan sy tiba di ruteng siang hari, apakah sy bs lgsg melanjutkan perjalanan ke dintor/denge atau hrs menginap di ruteng menunggu angkutan esok harinya?

    Lalu urusan penginapan, mba mengucap kata “Subhanallah” tentunya adalah muslim. Semenyara mba menginapnya di susteran. Apakah memang di suateran itu menyediakan penginapan utk org umum siapapun?

  2. Salam mba ika. Maaf sy mau tanya, apakah di ruteng itu kita jrs menginap dulu? Mosalkan sy tiba di ruteng siang hari, apakah sy bs lgsg melanjutkan perjalanan ke dintor/denge atau hrs menginap di ruteng menunggu angkutan esok harinya?

    Lalu urusan penginapan, mba mengucap kata “Subhanallah” tentunya adalah muslim. Semenyara mba menginapnya di susteran. Apakah memang di suateran itu menyediakan penginapan utk org umum siapapun?

    Sblmnya terima kasih atas jawabannya :)

  3. Hallo Mas Arie, gak sih mas kalau masih ada kendaraan (oto) yg ke denge/dintor bisa langsung dari Ruteng. Untuk menginap saya memang di kesusteran dahulunya sekarang sudah dijadikan hotel mas, jadi siapapun boleh menginap tanpa memandang agama apapun. Terima kasih…

  4. pertanyaan pertama sudah terjawab diatas, sekarang pertanyaan kedua: provider hape apa yg sampai ke wae rebo ? apakah disana ada 4G ?

    saya mau bawa drone mainan …..

  5. berapa total biaya transport yg anda habiskan disana ? mulai dari ongkos angkot keluar dari rumah sampai kembali ke rumah ? (tidak termasuk biaya baju dan beli perlengkapan anti dingin ..ya) makasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco