Berjumpa Jaladara

7

Langit hitam bergelayut mesra di atas jalanan Kota Solo saat rombongan Imlek Nusantara kembali meneruskan perjalanan. Bus yang kami tumpangi melaju di antara bulir-bulir air menuju Stasiun Purwosari. Mendekati stasiun, bapak supir memberitahu kami bahwa bis akan berhenti di luar area stasiun. Hujan masih belum berhenti sedangkan jadwal keberangkatan kereta semakin dekat. Kami segera turun dan berlari menuju stasiun untuk mengejar waktu.

Keramaian khas stasiun begitu terasa ketika saya tiba di pintu masuk. Pengeras suara tidak henti-hentinya memberikan informasi mengenai kedatangan dan keberangkatan. Sebagian penumpang memilih menunggu di deretan kursi sementara yang lain sibuk hilir mudik memantau jadwal kereta. Saya melihat ada beberapa panel yang terpasang di lorong antara pintu masuk dan ruang tunggu. Panel-panel tersebut berisi informasi mengenai sejarah perkembangan kereta api serta wisata menggunakan sepur. Sayang saya hanya sempat melihat sekilas karena kereta kami sudah menunggu.

Stasiun Purwosari adalah bangunan stasiun yang paling tua di Solo, namun masih aktif melayani perjalanan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa. Stasiun yang terletak di Laweyan ini dibangun sekitar tahun 1857 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (perusahaan perkeretaapian pada masa Hindia Belanda).

Ketika kami tiba di Peron 1, rangkaian kereta antik dengan dominasi warna hijau menyambut kami. Bukan rangkaian kereta panjang sebab hanya ada dua gerbong yang ditarik sebuah lokomotif. Namun justru di situ letak keistimewaannya.

Nama kereta ini adalah Jaladara, kereta wisata yang mempunyai jadwal perjalanan setiap akhir pekan, yang bisa dicarter untuk kebutuhan-kebutuhan khusus. Seperti yang saya alami. Saya mengikuti tur kereta Jaladara pada hari Selasa.

Nama Jaladara diambil dari kisah pewayangan dalam lakon Mahabarata. Dalam roman itu, Jaladara adalah kereta milik Prabu Kresna yakni Kyai Jaladara. Kereta Kyai Jaladara disebut sebagai kereta dewa karena memiliki kemampuan terbang. Kereta itu pula yang digunakan oleh Prabu Kresna untuk naik ke kerajaan Astinapura.

Kedua gerbong Jaladara yang diambil dari Bandung dan Magelang itu memiliki interior yang berbeda. Pada gerbong pertama terdapat bangku kayu memanjang di sepanjang jendela sedangkan pada gerbong kedua terdapat kursi kayu berkapasitas dua orang saling berhadapan di sisi jendela. Penganan kecil khas Solo serta dua jenis jamu disediakan untuk kami. Alunan gamelan dan tembang Jawa menghiasi perjalanan. Suasana menjadi begitu syahdu, alunan lagu yang indah mengajak kami untuk ikut bersenandung. Setiap penumpang memperoleh sebuah setangan leher dengan paduan warna kuning dan merah yang dapat dibawa pulang.

Lokomotif Jaladara

Perjalanan menggunakan Jaladara adalah hal yang menyenangkan. Untuk menuju pemberhentian pertama kereta, kami melintasi permukiman warga serta membelah jalan raya. Perlu diketahui bahwa jalur Jaladara memang bersisian dengan jalan raya. Hujan telah berhenti ketika kami memulai tur, namun semilir angin dingin berhembus riang dari jendela seriang hati kami hari itu. Kami pun segera mengeluarkan kamera dan ponsel untuk mengabadikan perjalanan ini. Tak lupa, kami mengunggah cerita perjalanan ini ke media sosial. Kereta bergerak lambat namun pasti. Dalam gerbong, seorang polisi berdiri siaga mengawal perjalanan.

Perhentian pertama adalah Lodji Gandrung. Gedung ini awalnya adalah rumah milik Ny. C.H. Dezentje, pemilik perkebunan yang terkenal pada masanya, yang memiliki darah campuran Belanda dan Jawa. Gedung ini merupakan hasil karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker dan diperkirakan dibangun pada tahun 1924. Kita bisa melihat perpaduan gaya arsitektur yang khas pada gedung ini. Ada gaya Art Deco pada profil kolomnya namun di sisi lain ada pula penyesuaian fungsi dengan iklim tropis seperti dapat dilihat pada kubah kaca, penerangan, dan alur ventilasinya serta gaya lokal khas Solo yang terlihat pada bentuk atapnya. Indah bukan?

Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini diambil-alih dan digunakan untuk kepentingan militer. Setelah masa perang berakhir, pemerintah daerah menggunakan Lodji Gandrung sebagai rumah dinas Walikota Solo hingga saat ini.

Gedung Lodji Gandrung terlihat sangat asri dengan keberadaan taman kecil pada bagian depan. Patung Gatot Subroto berdiri gagah di tengah taman. Pada bagian samping bangunan terparkir sebuah kereta kencana berwarna merah dan emas. Waktu yang tersedia untuk kami tidak banyak untuk masing-masing pemberhentian. Penjaga gedung memperbolehkan kami untuk berfoto pada anak tangga di depan pintu masuk. Sayang saat itu tidak ada orang yang bisa saya tanyai mengenai sejarah gedung. Bapak penjaga hanya memberikan keterangan bahwa saat itu sedang ada pertemuan dinas di dalam gedung.

Kereta Jaladara kembali bergerak menuju Taman Sriwedari yang semula merupakan sebidang tanah milik Johannes Busselaar yang dibeli oleh Sunan Pakubuwono X pada 1901. Sunan membuat taman rekreasi elite bagi keluarga kerajaan di atas tanah tersebut. Fasilitas taman pun bertambah dengan adanya kebun binatang dan kompleks olahraga pada tahun 1923. Berbagai peristiwa bersejarah pernah terjadi di taman ini, di antaranya serah terima kekuasaan militer dari tentara Belanda kepada Indonesia yang diwakili Letnan Kolonel Slamet Riyadi pada 12 November 1949. Di tempat ini pula setiap tahun, pada malam ke-21 Ramadhan, Keraton Surakarta mengadakan Malam Selikuran, sebuah malam ketika Tuhan memberikan penerangan kepada manusia lewat pengampunan.

Sebetulnya saya tidak sempat melihat bagian dalam taman, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengambil foto di pelataran depan taman. Ada sebuah gapura melengkung sebagai pintu masuk taman dengan tulisan “Taman Sriwedari”. Ukiran sulur vegetasi serta kepala kala berwarna merah menghiasi bagian atas gapura. Menurut penuturan Mas Yusuf dari Explore Solo, Taman Sriwedari adalah lokasi penyelenggaraan Pekan Olaharaga Nasional (PON) pertama pada 1948. Pada bagian dalam taman terdapat sebuah gedung pementasan wayang orang yang masih aktif hingga sekarang.

Kereta Jaladara rupanya mampu memikat banyak orang. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak anak kecil yang melambaikan tangan kepada kami, pengemudi yang melambatkan laju kendaraan untuk melihat kereta, bahkan turis asing yang tak segan-segan berfoto dengan kereta. Petugas kereta pun sangat ramah, baik kepada penumpang maupun orang-orang yang ingin berfoto.

Hiburan di Jaladara

Perhentian terakhir kami adalah Kampung Kauman. Seperti halnya di beberapa kota lain di Jawa, Kauman Solo terletak tak jauh dari keraton. Pada awalnya Kauman berfungsi sebagai kawasan permukiman para ulama masjid atau petinggi agama Islam di lingkungan keraton. Hal menarik dari kawasan ini adalah batik. Maka tak heran apabila Kauman dikenal pula sebagai Kampung Batik. Kerajinan batik sudah dimulai sejak pertengahan abad 19 sebagai usaha untuk menambah penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup. Pada saat itu para istrilah yang mulai berjibaku dengan malam dan canting. Motif serta teknik membatik mereka pelajari dari keraton. Seiring berjalannya waktu, produksi batik Kauman perlahan mulai menghilang. Hal ini disebabkan keadaan ekonomi yang tidak cukup baik, juga ketidakmampuan pengrajin dalam bersaing dengan industri tekstil. Untunglah di tahun 2006 kawasan ini menemukan kembali napasnya dan bertahan hingga saat ini.

Menemukan kawasan Kauman tidaklah sulit. Pada bagian depan kampung terdapat sebuah patung berbentuk tangan sedang memegang canting, selain itu terdapat gapura bertuliskan “Kauman Kampung Wisata Batik”. Tak jauh dari sana terdapat pula sebuah peta wisata dalam ukuran besar sehingga memudahkan pengunjung untuk menjelajah kawasan. Mas Yusuf sempat mengajak kami untuk meneliti peta wisata tersebut. Menurutnya di dalam kawasan ini masih banyak terdapat rumah tua dengan arsitektur gabungan antara rumah tradisional khas Jawa dengan langgam barat modern. Sayang, lagi-lagi kami tidak mendapat keleluasaan waktu untuk menjelajahi Kampung Kauman. Kami harus segera kembali ke kereta dan bergerak ke Stasiun Solo Kota untuk mengisi ulang bahan bakar berupa air.

Setelah urusan pengisian bahan bakar selesai dan lokomotif berputar arah, kami kembali bergerak. Kami menyusuri rute yang sama. Perjalanan kembali ke stasiun Purwosari diwarnai dengan hujan dan petir. Sejujurnya saya belum puas dengan perjalanan ini karena hanya ada tiga perhentian saja. Namun kekecewaan saya terobati karena teman-teman Explore Solo menceritakan sejarah beberapa gedung yang kami lewati serta menjawab keingintahuan saya mengenai jalur antara Solo Kota dan Purwosari. Tiba di Purwosari hujan masih belum juga reda. Kami kembali harus berlari-lari kecil di bawah hujan menuju bus untuk meneruskan perjalanan.

 

7 COMMENTS

  1. Suci, kayaknya perhentian terakhir di stasiun itu adalah untuk mengisi air. Kan kereta uap jadi perlu air. Bahan bakarnya kan kayu jati yang sudah kering dan dimasukkan ke dalam tungku di ruang masinis. Masinisnya ada 4 loh!

    • waaaaa mumun mampir, duuhhhhh buru-buru sujud syukur.. heheheheh… thanks mun atas koreksinya.. (lirik mas editor) wakakkakakakakakak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.