Belalai Turis Relawan di Bumi Andalas

4

Rasa kantuk setelah semalaman melewatkan satu siklus tidur membuat saya terlelap dalam penerbangan selama sekitar satu jam itu. Mata saya perlahan mulai terbuka ketika mendengar bunyi tanda akan mengudaranya suara pramugari di kabin pesawat: “Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. Tidak ada perbedaan waktu antara Jambi dan Jakarta.” Mendengar itu saya mulai menegakkan sandaran kursi, memaksa mata yang masih mengantuk untuk membuka, lalu menatap daratan yang mulai terlihat dari balik jendela pesawat.

Saya akhirnya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Bumi Andalas setelah sekian lama disambut oleh langit biru Jambi yang cerah. Ini mungkin bukan perjalanan jauh pertama saya – bukan juga pertama kalinya saya akan menemui wajah-wajah yang belum dikenal sebelumnya – dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun perjalanan kali ini memberikan ketegangan tersendiri bagi saya. Bukan karena cemas atau takut, tapi rasa tegang ini karena saya yakin perjalanan kali ini akan luar biasa menyenangkan.

aghnia7

Setelah mengambil barang-barang dari bagasi pesawat, saya melangkah keluar bandara. Melihat seorang laki-laki berkaos AC Milan putih sudah berdiri menunggu, saya pun melambaikan tangan dan tersenyum kemudian menjabat tangannya yang telah lebih dulu terulur. Dia pun langsung mengajak beranjak menuju mobil sambil membantu membawakan sebagian barang bawaan saya. Setelah menaruh barang di bagian belakang mobil 4WD itu, saya pun duduk di kursi depan. Mobil mulai melaju meninggalkan bandara, saya mulai berceloteh dan menanyakan ini itu dan disambut ramah olehnya.

Mas Ragil namanya. Saya belum pernah kenal dengan dia sebelumnya, hanya saling menyahut melalui pesan singkat setelah ia memberitahu bahwa dialah yang akan menjemput saya di bandara, namun sebentar saja kami sudah bisa berbincang cukup panjang. Terlebih ini pengalaman pertama saya bertemu orang yang berkiprah langsung di dunia konservasi, sehingga saya menjadi sangat bersemangat melontarkan banyak pertanyaan dan tanggapan. Perjalanan ternyata cukup lama; setelah kehabisan kata-kata kami akhirnya hanya diam. Saya menikmati jalanan Kota Jambi yang belum pernah saya lihat sebelumnya sambil diiringi musik dari Jogja Hip Hop Foundation yang mengalun di dalam mobil.

aghnia2Empat puluh lima menit kemudian akhirnya kami sampai, saya turun dari mobil sambil memerhatikan sekitar. Sambil berjalan masuk ke dalam, saya melihat sekilas dua hardtop cokelat dan beberapa mobil 4WD lainnya berjejer di halaman, dan papan besar berwarna hijau dengan wajah besar gorilla bertuliskan Frankfurt Zoological Society (FZS) bertengger di dinding luar. Di dalam saya langsung bertemu dengan manajer keuangan, disodorkan beberapa lembar kertas.

“Baca dulu saja ya,” ujarnya ramah sambil meninggalkan saya sendirian di ruangan besar yang tampak seperti ruang pertemuan.

Saya hanya tersenyum kemudian menyandarkan tubuh di kursi rotan yang sudah dari tadi saya duduki, melihat halaman belakang yang terpampang dari jendela ruangan yang lebar, lalu mengangkat kertas-kertas yang disodorkan pada saya dan mulai membacanya perlahan.

Kontrak Kerja Volunteer. Tiga kata itu yang berada di paling atas kertas, dengan tulisan yang dicetak lebih tebal dan lebih besar dibandingkan tulisan-tulisan di bawahnya. Setelah membaca seluruh isi kertas itu saya pun menandatanganinya, pertanda saya sepakat untuk bekerja secara sukarela selama tiga bulan kedepan sebagai Community Affairs Officer di Elephant Conservation and Conflict Mitigation Unit yang berada dibawah naungan Frankfurt Zoological Society – sebuah organisasi nirlaba dari Jerman yang bergerak di bidang konservasi satwa liar, khususnya Orangutan Sumatera dan Gajah Sumatera, di Indonesia.

aghnia6

Saya sangat menyukai isu lingkungan, saya juga senang menjadi relawan. Perjalanan? Lebih dari suka; saya ketagihan dengan perjalanan dan rutinitas sebagai seorang pejalan. Semua hal yang saya suka bersatu di sini, bersatu dalam kesempatan yang membuat saya bisa terjun langsung ke dalam dunia konservasi satwa liar. Inilah yang membuat saya deg-degan di awal perjalanan, karena semua hal yang dapat meningkatkan gairah saya berada dalam satu jalur yang telah membawa saya kemari. I am extremely excited to get this rare experience!

Kontrak kerja sudah dikembalikan ke pihak kantor. Saya lalu menyantap makan siang ditemani seorang teman lama yang ternyata telah bekerja beberapa bulan di NGO ini. Terkadang saya berpikir bahwa perjalanan itu lucu; perjalanan bisa membawa kita bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan atau bahkan mempertemukan kita dengan orang yang telah lama kita kenal secara tidak terduga. Selesai makan saya kembali melanjutkan perjalanan saya sebab areal kerja saya bersama tim Wildlife Protection Unit berada di lansekap Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) yang berada di Kabupaten Tebo, sekitar 4-5 jam perjalanan dari Kota Jambi.

Tiga bulan bukan waktu yang terlalu panjang namun juga bukan waktu yang singkat untuk dilalui. Banyak hal yang saya alami selama di sini, banyak pembelajaran dan pengalaman baru berharga yang saya dapatkan. Awalnya saya berpikir sempit, bahwa menjadi relawan untuk konservasi Gajah Sumatera berarti saya harus mengurus gajah, memberinya makan, memandikannya, membersihkan kotorannya dan lain sebagainya. Pikiran saya memang terlalu terpatok dengan gajah-gajah yang ada di Way Kambas, Lampung. Tapi saya salah besar! Malah saya harus menahan diri untuk tidak bertemu langsung dengan kawanan gajah yang ada di TNBT ini, karena gajah-gajah di sini adalah gajah liar yang tidak terbiasa bertemu dengan manusia. Berbeda dengan gajah-gajah Way Kambas yang telah dijinakkan dan dilatih di pusat pelatihan gajah sebelumnya. Kalau di sini, alih-alih ingin bermain dengan gajah, bisa jadi nyawa kita yang malah melayang.

Gajah Sumatera yang ada di Provinsi Jambi hanya tersisa sekitar kurang lebih 150 ekor, berdasarkan penelitian terhadap DNA gajah di tahun 2012. Gajah Sumatera termasuk hewan yang dilindungi karena jumlahnya yang sudah terancam punah dan rentan diburu gadingnya. Sayangnya wilayah TNBT yang dilindungi memiliki kontur berbukit-bukit yang tidak bisa ditinggali gajah, sehingga gajah hanya bisa hidup di dataran rendah di luar koridor taman nasional, kawasan yang tidak dilindungi karena sudah berada di luar area taman nasional sehingga mengancam keberlangsungan hidup gajah.

Kenapa mengancam? Habitat gajah dan satwa liar lainnya adalah hutan, sedangkan hutan di sini telah banyak yang dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Selain kehilangan rumah, gajah-gajah tersebut juga kehilangan sumber makanannya – tumbuhan-tumbuhan besar yang ada di hutan.

aghnia4Permasalahan utama dalam penyelamatan Gajah Sumatera di TNBT ini bukanlah hanya rumah gajah yang banyak menghilang, tapi juga Konflik Manusia-Gajah (KMG). KMG terjadi karena hutan sebagai habitat dan sumber makanan gajah menghilang dan berganti menjadi perkebunan sawit. Gajah juga sama seperti manusia, butuh makan untuk bertahan hidup. Gajah yang terdesak terpaksa masuk ke perkebunan sawit untuk mencari makan. Walaupun tidak suka, gajah-gajah ini pun akhirnya memakan sawit untuk bertahan hidup sebab tidak ada pilihan lain. Perilaku gajah yang makan sawit untuk bertahan hidup ini sangat tidak disukai oleh masyarakat pemilik kebun. Mereka menganggap gajah-gajah yang terancam punah ini sebagai hama. Tidak sedikit pula yang mengambil jalan pintas, membunuh gajah dengan meracuni atau menembaknya. Jika mendapati gajah jantan, masyarakat akan sekaligus mengambil gadingnya sebab Gajah Sumatera yang memiliki gading hanyalah yang jantan. Tingginya KMG ini juga tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup gajah namun juga keberlangsungan hidup manusia. Tidak sedikit kasus KMG yang menimbulkan kematian manusia.

Dengan konflik yang sangat tinggi itu, FZS berusaha untuk meminimalisir konflik yang terjadi dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan Early Warning System (EWS). EWS merupakan sistem peringatan untuk memberitahu para pemilik kebun atau masyarakat bahwa gajah datang mendekat sehingga masyarakat bisa bersiap. Persiapan menghadapi kedatangan gajah ini juga biasanya didampingi oleh tim lapangan FZS yang selalu melakukan penyuluhan berkala kepada masyarakat.

Banyak cara untuk mengusir gajah yang masuk ke perkebunan. Cara yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan meriam karbit. Meriam tidak ditembakkan ke tubuh gajah melainkan ditembakkan ke udara. Gajah takut pada suara keras yang tidak dikenalnya sehingga mereka akan mengurungkan niat untuk memasuki kebun.

Lantas bagaimana kita bisa tahu di mana posisi gajah? Itulah yang menjadi salah satu tugas saya; saya memantau posisi gajah dengan mengambil koordinatnya dari GPS yang terpasang di leher gajah, lalu memberikan peringatan kepada masyarakat jika memang gajah terlihat mendekati perkebunan.

aghnia10

Saya juga ikut melakukan penyuluhan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan bersama tim lapangan FZS. Ini juga yang menjadi salah satu pengalaman menarik saya di sini; berkat menjadi volunteer saya bisa setiap hari mengendarai motor trail. Kondisi jalan yang masih buruk membuat perjalanan masuk ke lapangan menjadi seperti sedang off-road, sehingga melengkapi pengalaman saya menjadi semakin penuh petualangan. Sangat menyenangkan sekali bukan melakukan hal-hal yang sangat kita suka sambil bisa memberi manfaat untuk alam dan sekitarnya?

Ada satu pengalaman paling seru ketika di lapangan. Waktu itu kami masuk ke lapangan bersama Tim Alpha yang akan memasang camera trap untuk memantau pergerakan satwa liar di dalam taman nasional sehingga saya tidak perlu mengendarai motor trail sendiri sebab kami semua diantar menggunakan hardtop. Ada sebuah sungai yang harus diseberangi jika ingin mencapai Stasiun Orangutan di dalam hutan. Namun cuaca sedang tidak baik saat itu – curah hujan sangat tinggi, sungai meluap sehingga mobil tidak bisa lewat. Posisi sungai tersebut pun sudah cukup masuk di dalam hutan sehingga kembali lagi ke mess pun rasanya terlalu jauh. Lalu kami memutuskan untuk bermalam di pinggir sungai, berharap besok air sungai sudah surut.

Tapi ternyata air sungai tak kunjung surut sehingga kami mesti menunggu semalam lagi. Sambil menunggu kami memancing di sungai, ikannya lalu kami masak dengan tempoyak yang merupakan makanan khas Jambi. Tempoyak adalah fermentasi durian. Memang tidak semua orang suka karena rasanya yang aneh; tapi menurut saya rasanya sangat unik. Tempoyak ikan sangat nikmat disantap saat hujan, rasanya yang asam pedas dan kuahnya yang hangat sangat mantap untuk dijadikan penghangat tubuh.

Sambil menunggu kami juga sempat dihampiri oleh Suku Anak Dalam yang meminta bahan makanan. Sungguh sangat tidak terduga! Suku Anak Dalam yang pertama kali saya lihat dalam film Sokola Rimba yang berkisah tentang Butet Manurung akhirnya dapat saya lihat secara langsung di depan mata. Walaupun kondisinya memang berbeda dari yang digambarkan di Sokola Rimba, bertemu dengan suku adat yang tinggal secara nomaden di dalam hutan saat saya sedang volunteering menjadi pertemuan yang tidak terlupakan bagi saya.

Setelah dua malam menunggu akhirnya sungai surut juga dan bisa dilalui oleh mobil. Namun karena jalanan sangat buruk dan juga licin oleh hujan, mobil pun seringkali tersangkut sehingga kami harus turun dan membantu memasang sling untuk bisa mengeluarkan mobil yang tersendat di lumpur. Perjalanan ke lapangan memang sangat seru, bisa dibilang ini menjadi pengalaman off-roading saya yang paling menyenangkan.

Ada juga satu kejadian yang menguras emosi saya, saat tim patroli menemukan dua bangkai gajah tak berkepala di tengah perkebunan sawit dengan selongsong peluru menancap di tubuh mereka. Setelah dilakukan penyelidikan, diduga gajah ditembak dari jarak jauh. Setelah dilumpuhkan kepalanya dipotong dengan gergaji mesin agar lebih mudah diambil gadingnya. GILA! SUNGGUH TEGA! Saya tidak mengerti bagaimana bisa ada manusia yang bisa sejahat itu hanya demi seonggok uang? Iya, gading memang harganya sangat mahal, tapi apa sih manfaatnya? Tidak ada! Untuk jimat? Untuk pengobatan? Benarkah ada khasiatnya? Tidak ada! Itu hanyalah kepercayaan tanpa bukti ilmiah. Kejadian itu membuat kepala saya sakit teramat sangat; campur aduk antara sedih, marah, kecewa, geram, ingin berbuat sesuatu tapi kapasitas saya masih sangat terbatas.

Banyaknya pengalaman menarik saat menjadi volunteer di sini mungkin tidak dapat saya ceritakan dalam satu tulisan. Namun satu yang pasti, menjadi volunteer sambil melakukan perjalanan membuat saya merasa sangat bahagia dan membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar untuk mengeluarkan potensi terbaik, saya juga mendapat banyak pengalaman menarik; mengunjungi tempat-tempat baru yang indah sembari melakukan aksi dan kegiatan positif yang sangat bermanfaat bagi alam, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Voluntouring tidak hanya menyenangkan tapi juga membuat saya ketagihan! Berani coba?

By Aghnia Fasza
aghnia.fasza@gmail.com
belalai-turis-relawan-di-bumi-andalas
Belalai Turis Relawan DI Bumi Andalas

 

4 COMMENTS

  1. Dear, Aghnia. Saya senyum-senyum membaca artikel ini. Boleh tahu bagaimana caranya mendaftar untuk volunteering di Bumi Andalas? Adakah nomor kontak atau email di sana yang bisa dihubungi? Takutnya kalau langsung datang malah ditolak. Terima kasih. Salam lestari.

  2. halo salam kenal, ku sangat tertarik dengan voluntourism ini dan baru terpikirkan akhir akhir ini, aku baru saja mengujungi website FZS namu agak bingung untuk mendaftar program voluunteeringnya bagaimana ya kak?
    well, I found this statement from the website “We are humbled by your support and your interest in conservation but we kindly ask you to refrain from enquiries about volunteer work or visiting our project.” does that mean they’re not open for volunteers anymore? boleh ga kakak cerita gimana kakak bisa mendaftar pada awalnya? terimakasih banyakk! You’re an inspiration :)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco