Perjalanan di Kampung Tabrik, Kawasan Ramah Lingkungan di Kaki Gunung Gede Pangrango

0

 

Salah satu kawasan yang memiliki penampungan air cukup tinggi di Pulau Jawa adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Selain itu, TNGGP memang memiliki keindahan alam tersendiri. Spesies unik khas TNGGP seperti owa jawa, macan tutul, maupun elang jawa menghiasi keberagaman satwa yang menghuni area lebih dari 22.000 hektar tersebut. Juga banyak sekali curug yang menambah keindahan kawasan tersebut. Salah satunya adalah Curug Goong yang terdapat di Kampung Tabrik, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Air adalah sumber kehidupan. Makhluk hidup sangat bergantung pada air. Penggunaan air secara tepat dapat memberikan banyak manfaat bagi manusia dan alam. Tinggal bagaimana kesadaran kita untuk terus melestarikan kealamian sang sumber kehidupan. Ambil secukupnya, kembalikan sisanya.

Aku adalah salah satu yang beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Kampung Tabrik melalui undangan dari AQUA.

**

“Sudah sampai? Kami menunggu di dalam, nih.” pesan Whatsapp tertera pada smartphone yang kumiliki.

“Sebentar, sudah di parkiran. Lagi jalan ke dalam..” balasku singkat.

Aku segera mempercepat langkah menuju basement Gedung Cyber 2 di kawasan Kuningan, tempat dimana kami mengadakan janji untuk bertemu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 06.40 WIB, 10 menit lebih dari waktu yang sudah kami sepakati.

Dari balik pintu kaca kulihat kedua temanku, Chyntia dan Deli sedang duduk di pojok ruangan kantin. Sepertinya mereka cukup lama menungguku. “Dapat Go-jek susah, bro, kalau jam sibuk seperti sekarang.” sapaku membuka pembicaraan. Mereka hanya tertawa, sepertinya usaha mereka untuk kesini jauh lebih sulit daripada aku yang berjarak lebih dekat.

Kami memulai perjalanan dari Gedung Cyber 2 sekitar pukul 9 pagi, menggunakan mobil van. Satu jam pertama perjalanan menuju Cianjur,aku hanya tertidur. Jam berikutnya cukup melelahkan karena cuaca memang hujan dan berangin, sehingga mobil van yang kami tumpangi seringkali bermanuver di jalanan dan membuatku tidak nyaman.

Setelah 3 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Kampung Tabrik. Begitu kami keluar mobil, suasana dingin khas pedesaan kaki gunung menyambut kami. Cuaca ekstrem yang sedang melanda Indonesia bagian selatan pun cukup memberi andil untuk menambah dinginnya kala itu, walaupun suasana masih siang hari. Aku meneruskan langkahku menuju area lapang, di sana orang-orang sudah berkumpul dan sepertinya memang mereka menunggu kedatangan kami.

Sebuah bangunan terlihat di bagian kiri dan terlihat poster besar bertuliskan KMM (Karya Masyarakat Mandiri). Terdapat juga embung untuk menampung air hujan di samping bangunan tersebut. Sumur resapan dan biopori pun dibuat di beberapa tempat. Di depanku terlihat greenhouse dari bambu hasil swadaya masyarakat yang sedang dibangun. Di kanan kiri-nya terdapat palet bekas dari pabrik AQUA yang sudah tidak digunakan lagi dan didaur-ulang oleh warga menjadi meja, rak, kursi, maupun barang rumah tangga lainnya.

Di tengah ada beberapa contoh bibit pohon yang nantinya akan ditanam di kawasan konservasi yang ada di kampung tersebut. Sementara di kanan terlihat saung yang cukup menampung sekitar 30 orang. Saat kuperhatikan lebih teliti, ada beberapa jenis sayuran seperti paprika, wortel, dan tomat sudah dikemas. Rupanya ini adalah hasil pertanian kelompok tani setempat. Terdapat juga pestisida organik yang memang dibuat sendiri oleh mereka. Pestisida ini dihasilkan oleh petani berkat bimbingan ahli yang memang disediakan oleh tim AQUA.

“Selamat datang Pak. Bagaimana perjalanannya?” sapa Pak Jarot menyambut kami. Ia adalah CSR Manager dari AQUA.

“Lelah Pak. Seperti dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan diguncang-guncang.” jawabku seadanya sambil tersenyum. Yang lain pun menimpali pertanyaan Pak Jarot.

Pak Jarot memperkenalkan kami kepada Pak Michael, selaku External Communication Manager dari AQUA dan Pak Uden, selaku ketua KMM. Setelah perkenalan tersebut, Pak Jarot mempersilahkan kami menuju saung dan mendengarkan pemaparan dari kelompok tani yang berada di daerah tersebut.

Ada yang menarik perhatianku saat mereka berbicara tentang ecofarming. Program ecofarming ini dilakukan oleh kelompok petani di Kampung Tabrik dan didanai melalui CSR oleh AQUA melalui program #AQUALestari. Kegiatan ecofarming sendiri antara lain, penanaman pohon, pertanian menggunakan greenhouse, pembuatan embung, biopori dan resapan air.

“Kami tim dari TNGGP tidak bisa menjaga kawasan gunung sendirian. Butuh partisipasi dari masyarakat Kampung Tabrik untuk membantu konservasi sehingga persediaan air dan oksigen tetap terjaga.” jelas salah satu tim TNGGP. Kampung Tabrik sendiri merupakan daerah yang langsung berada di kaki Gunung Gede Pangrango dan juga merupakan salah satu kawasan penyangga gunung tersebut.

Setelah pemaparan tersebut, kegiatannya selanjutnya adalah menuju Curug Goong. Ternyata selain ecofarming, ternyata Kampung Tabrik juga memiliki curug yang sedang dalam pengembangan wisata. Ini juga termasuk dalam salah satu program bantuan AQUA.

Sebelum menuju kesana, kami berkesempatan untuk melakukan penanaman Pohon Rasamala yang bernama Latin Altingia excelsa Noronha. Pohon ini menurut informasi dari tim TNGGP bisa tumbuh sampai 60 meter dan berguna untuk mengikat cadangan air, serta menghasilkan oksigen dalam jumlah banyak.

Setelah menanam Pohon Rasamala, kami melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak yang dibuat oleh warga. Hujan deras dan angin kencang menemani perjalanan kami.

“Berapa lama pak kalo sampai bawah?” tanyaku pada seorang pemandu.

“10 menit, mas,” jawabnya datar.

Tapi percayalah, untuk yang satu ini, sebaiknya jangan percaya warga setempat. Untuk orang yang terbiasa kesini, 10 menit adalah hal yang wajar. Untuk yang tidak pernah, maka membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Jangan berpikir perjalanan kami menuju curug menyenangkan. Jalan menuju ke sana masih licin karena hujan dan jalan setapak ini juga baru dibuat beberapa hari yang lalu. Ternyata anak-anak SMA setempat bersama warga lokal yang membuat jalan setapak tersebut. Namun demikian, beberapa alat bantu sudah dipasang di sepanjang jalan menuju curug. Ada tali di beberapa tempat untuk membantu kita berpegangan. Bilahan-bilahan bambu juga menghiasi jalan setapak yang dibuat menyerupai tangga. Setiap orang dari rombongan kami didampingi oleh pemandu lokal, sehingga cukup memberikan rasa aman.

Setelah sekitar 30 menit, aku sampai di Curug Goong. Ternyata sudah cukup ramai karena rombongan dari anak-anak SMA sudah sampai terlebih dahulu. Suasana segar dan dingin langsung terasa. Aku bergegas pergi ke semak-semak yang tertutup dan kemudian berganti celana. Kemudian bergabung dengan yang lain untuk menikmati air yang turun dari ketinggian sekitar 65 meter tersebut. Airnya sangat segar dan dingin.

“Del, fotoin..” pintaku ke Deli.

Bagai seorang fotografer partikelir, Deli segera mengambil gambar dengan berlatar belakang curug tersebut. Entah dimana Chintya saat itu.

Di sela-sela waktu bermain air, aku bertanya kepada Pak Uden, warga lokal yang juga ikut turun ke curug. “Pak, kapan dibuka untuk umum?”

“Belum. Jalan baru selesai dibuat. Masih ada yang beberapa yang belum beres, mas,” jawab Pak Uden dengan logat khas sundanya.

“Berapa harga tiket masuknya?” tanyaku lanjut.

“Belum ditetapkan. Harus menunggu musyawarah warga setempat,” jawabnya lagi.

“Hmm.. baguslah,” ucapku dalam hati.

Prosedur keselamatan memang menjadi syarat mutlak, sehingga perbaikan harus terus dilakukan. Pada saat nanti dibuka untuk umum, seharusnya sudah bisa memberikan keamanan dan kenyamanan kepada pengunjung.

 

Setelah waktu berlalu sekitar satu jam, aku memutuskan untuk kembali naik karena sudah kedinginan. Kali ini perjalanan terasa lebih berat, karena jalanan semakin licin dan menanjak. Meminjam istilah komentator sepakbola nasional, hujan deras dan angin kencang terus mengguyur tanpa amnesti dan tanpa musyawah.

Sesampainya di saung, suguhan teh hangat menjadi pelepas dahaga dan gorengan panas sudah menanti. Nikmat sekali rasanya setelah kelelahan dan kehujanan. Sementara di luar terlihat kabut menebal dan hujan belum berhenti.

Setengah jam sudah kami menunggu di saung dan akhirnya hujan berhenti. Perjalanan dilanjutkan kembali ke salah satu greenhouse yang sudah siap panen. Tidak terlalu jauh dari tempat berkumpul semula. Greenhouse ini terletak diantara hamparan tanah kosong yang luas dan siap ditanami berbagai rupa tanaman. Di area greenhouse yang memiliki luas sekitar 200m2, sudah banyak paprika yang siap dipetik. Tentu saja ini diberikan gratis oleh kelompok KMM. Aku tidak terlalu lama disana karena hujan kembali mengguyur dan hawa dingin terus menyelimuti yang membuat badan menggigil.

Setelahnya kami berpamitan dengan warga setempat dan pengurus KMM untuk segera menuju hotel tempat kami bermalam. Tidak lupa mereka memberikan hasil panen mereka berupa wortel, paprika, dan tomat sebagai buah tangan.

 

Satu hal yang aku garis bawahi adalah, AQUA tetap berkomitmen untuk menjaga konservasi lingkungan dengan melakukan penanaman kembali dan membantu masyarakat sekitar untuk menggerakkan perekonomian yang berbasis ramah lingkungan dengan berbagai program yang dijalankan melalui CSR.

Aku berharap Curug Goong juga bisa menjadi wisata baru andalan masyarakat setempat, sehingga bisa menggerakkan dan meningkatkan perekonomian mereka. Tentunya dengan tetap menjaga kawasan TNGGP tetap lestari, sehingga sumber daya alam yang ada bisa terus dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Tabrik beserta pihak AQUA, adalah salah satu contoh yang baik, bagaimana pelestarian alam dan peningkatan ekonomi bisa berjalan beriringan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco