Traveller Kaskus

Date archives February 2015

Voluntourism

Mengasah Jiwa dalam Voluntourism

Ketika kamu ingin pergi ke suatu tempat, pertama kali hatimu yang akan pergi untuk menyaksikan dan meneliti keadaan di tempat itu, lalu ia akan kembali untuk mendorong tubuhmu – Jalaluddin Rumi Salah seorang siswaku menandaiku di foto sebuah masjid di Teluk Dalam Nias Selatan. Masjid itu barangkali terbilang sederhana, namun perjalanan terwujudnya masjid itu sama… Continue reading

Share to social media :
Voluntourism

Belalai Turis Relawan di Bumi Andalas

Rasa kantuk setelah semalaman melewatkan satu siklus tidur membuat saya terlelap dalam penerbangan selama sekitar satu jam itu. Mata saya perlahan mulai terbuka ketika mendengar bunyi tanda akan mengudaranya suara pramugari di kabin pesawat: “Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. Tidak ada perbedaan waktu antara Jambi dan… Continue reading

Share to social media :
Voluntourism

Voluntourism, Membuat Perjalanan Lebih Bermakna

Because traveling opens eyes, warms hearts, frees minds, makes us alive… Semua orang pastinya suka jalan-jalan, suka berlibur ke tempat yang jauh untuk melepas beban, memanjakan diri masing-masing. Setiap perjalanan adalah pencarian, mencari kepuasan. Lalu hasilnya apa? Batin kita terpuaskan. Mood menjadi lebih baik karena segala beban di sekolah, kampus, kantor, lepas sudah. Setiap pulang… Continue reading

Share to social media :
Voluntourism

Voluntourism: Semangat Belajar Anak-Anak di Biak

Hari ini, sepuluh Februari dua ribu empat belas, satu tahun silam, aku sedang bertandang ke sebuah ruang yang dindingnya terang benderang. Warna-warni kuning-biru-merah khas klub sepakbola Barcelona terpampang indah memesona. Di sanalah anak-anak berhimpun dalam dua rumpun kecil. Tak ada yang melamun, semua tekun menyusun balok-balok. Mereka berkompetisi merangkai balok-balok makin tinggi dan serasi agar… Continue reading

Share to social media :
Voluntourism

Palasari Kini Berseri

Adalah Thomas Alva Edison yang menemukan lampu pijar pada tahun 1879 silam. Dimulai dari negaranya, Amerika Serikat, kini hampir seluruh dunia dapat menikmati hasil kerjanya, merasakan kehangatan cahaya lampu pijar. Namun ternyata masih ada bagian dunia yang belum bisa merasakan temuan Edison tersebut. Tempat itu terletak di negara tercinta ini, namanya kampung Palasari. Belum tersedianya… Continue reading

Share to social media :
Cerita Pejalan / Pilihan Editor

Menjadi Relawan di UWRF 2014

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana sensasi duduk, mengobrol, dan berdiskusi bersama ribuan pecinta sastra; bagaimana rasanya ketika keinginanmu terwujud untuk sekadar bersalaman dan bertukar sapa dengan penulis favoritmu yang berasal dari negeri jauh; atau bagaimana takjubnya mendengarkan langsung suara orang yang biasanya hanya kau baca narasinya di lembaran-lembaran kertas? Tahun lalu saya berkesempatan merasakan kedua hal… Continue reading

Share to social media :
Essai Foto / Pilihan Editor

Kusamba, Gerbang Lain Menuju Nusa

Tidak tampak keramaian ketika memasuki Kusamba, sebuah perkampungan antara Klungkung dan Denpasar, ketika saya tiba sebelum matahari benar-benar muncul dari timur. Aroma garam yang menyengat, bau amis ikan segar dan ibu-ibu yang sedang duduk sembari membenahi jaring-jaring ikan dengan senyum ramah menyapa setiap orang yang lalu lalang, tak terkecuali saya. Sepertinya mereka telah terbiasa melihat… Continue reading

Share to social media :
Cerita Pejalan / Pilihan Editor

Ketika di Ende

Hotel tempat saya menginap di ketika di Ende memang cocok sekali dinamakan Ikhlas sebab tarifnya hanya berkisar antara lima puluh ribu rupiah per malam sampai sembilan puluh ribu, tergantung pada jenis kamar. Saya memilih yang paling murah; kamar berukuran kecil dengan dua dipan, minus kamar mandi. Saya tidak peduli, yang penting ia punya kipas angin… Continue reading

Share to social media :
Van Diary

The Van Diary: Tenganan dan Daun Lontar

Syahdan, jauh sebelum masa ketika pasukan Majapahit yang kalah perang melarikan diri ke Bali lalu mengubah kebudayaan pulau itu menjadi selayaknya sekarang, Bali telah memiliki peradaban. Para penghuni awal Pulau Dewata hidup tenteram di pegunungan dengan menganut kepercayaan lokal: agama Tirta. Desa-desa tua tempat mereka bermukim dikenal sebagai Bali Aga (Bali Asli). Kini, hanya beberapa… Continue reading

Share to social media :